Entri Populer

div class='clear'>

Jumat, 16 Desember 2011

has jurnalistik


Ahmad dahlan lahir di Kauman (Yogyakarta) pada tahun 1868. Ia berasal dari keluarga yang terkenal alim dalam ilmun agama. Ayahnya bernama K.H. Abu Bakar, seorang Imam dan Khatib masjid besar kraton Yogyakarta. Sementara ibunya bernama Siti Aminah, Putri K.H. Ibrahim yang pernah menjabat sebagai penghulu di kraton Yogyakarta.
Sejak kecil, Dahlan diasuh dan dididik sebagai putra kiyai. Pendidikan dasarnya dimulai dengan belajar membaca, menulis, mengaji Al-qur’an, dan kitab-kitab agama. Pendidikan ini diperoleh langsung dari ayahnya. Menjelang dewasa, ia mempelajari dan memahami ilmu-ilmu agama kepada beberapa ulama besar waktu itu.
Diantaranya K.H. Muhamad Saleh (Ilmu Fiqh), K.H. Muslim (Ilmu Nahwu), K.H.R. Dahlan (Ilmu Falah), K.H. Mahfudz dan syekh Khayyat Sattokh (Ilmu Hadits), Syekh Amin dan Sayyid Bakri (Qiralat Al-qur’an), serta beberapa guru lainnya. Maka tak heran jika dalam usia muda, ia telah mampu menguasai berbagai disiplin ilmu keislaman. Namun Dahlan selalu merasa tidak puas dengan ilmu yang telah dipelajarinya dan terus berupaya untuk lebih mendalaminya.
Setelah beberapa waktu belajar dengan sejumlah guru, pada tahun 1890 Dahlan berangkat ke Mekah untuk melanjutkan studinya dan bermukmin di sana selama setahun. Kemudian pada tahun 1903, ia berangkat lagi ke Mekah dan menetap selama dua tahun.
Pada tahun 1909, Dahlan masuk organisasiBoedi Oetomo, yakni untuk mendapatkan peluang memberikan pengajaran agama kepada para anggotanya. Strategis yang ditempuhnya itu dimaksudkan untuk membuka kesempatan memberikan pengajaran agama di sekolah-sekolah pemerintah. Pendekatan ini dilakukan karena para anggota organisasi Boedi Oetomo pada umumnya bekerja di sekolah dan di kantor pemerintah waktu itu.
Selanjutnya pada tanggal 18 November 1912, Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah di Yogyakarta. Tujuan organisasi ini adalah untuk “menyebarkan pengajaran Rasulullah kepada penduduk bumi putra dan memajukan hal agama Islam kepada anggota-anggotanya”. Untuk mencapai maksud ini, muhammadiyah mendirikan lembaga pendidikan dari (tingkat dasar sampai perguruan tinggi), mengadakan rapat-rapat, tablig, mendirikan badan wakaf dan masjid, serta ,menerbitkan buku-buku, brosur, surat kabar dan majalah.
Semangat dan cita-cita pembaharuan Dahlan, kendati menghadapi berbagai kendala, namun berhasil dihadapinya dengan arif dan bijaksana. Melalui kasismanya, akhirnya Muhammadiyah menjadi sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia dan telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan bagi pembangunan peradaban umat. Dari uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Muhammadiyah mementingkan pendidikan dan pengajaran yang berdasarkan Islam, baik pendidikan disekolah/ Madrasah ataupun pendidikan dalam masyarakat.
Hampir seluruh pemikiran Dahlan berangkat dari keprihatinannya terhadap situasi dan kondisi umat Islam pada waktu itu yang tenggelam dalam kebodohan dan keterbelakangan. Latar belakang situasi dan kondisi tersebut telah mengilhami munculnya ide pembaharuan Dahlan.
Menurut Dahlan, upaya strategis untuk menyelamatkan umat islam dari pola berpikir yang setatis menuju pada pemikiran yang dinamis adalah melalui pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan hendaknya ditempatkan pada skala utama dalam proses pembangunan umat. Mereka hendaknya dididik agar cerdas, kritis, dan memiliki daya analisis yang tajam dalam memetadinamika kehidupannya pada masa depan.
Islam menekankan kepada umatnya untuk mendayagunakan semua kemampuan yang ada pada dirinya dalam rangka memahami fenomena alam semesta, baik alam mikro maupun makro. Meskipun Al-qur’an menekankan pentingnya menggunakan akal, akan tetapi Al-qur’an juga mengakui akan keterbatasan kemampuan akal. Ada realitas fenomena yang tak dapat di jangkau oleh indra dan akal manusia. Karena ruh dan jasad ilmu pengetahuan dapat diperoleh apabila peserta didik (manusia) mendayagunakan berbagai media, baik yang diperoleh melalui persepsi inderawi, akal, kalbu, wahyu, maupun ilham.
Dahlan berpendapat, bahwa pendidikan islam, hendaknya diarahkan pada usaha membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti luhur, alim dalam agama, luas pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan, serta bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya. Hal ini berarti bahwa pendidikan islam merupakan upaya pembinaan pribadi muslim sejati yang bertaqwa. Untuk mencapai tujuan ini, proses pendidikan islam bendaknya mengkomodasi berbagai ilmu pengetahuan, baik umum maupun agama, untuk mempertajam daya intelektualitas dan memperkokoh spiritualitas peserta didik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar